Tugas Pengganti UAS - Gelombang - Abrasi
Abrasi dapat disebabkan
oleh faktor alam berupa hantaman gelombang atau ombak dan faktor aktivitas
manusia yang merusak dapat berupa pengalihfungsian lahan mangrove, pengerukan
pasir atau batuan pantai, dan aktivitas lainnya yang bersifat merusak pesisir.
Menurut Diposaptono (2011), Survey membuktikan setidaknya ada 5 penyebab abrasi
yang disebabkan oleh kegiatan manusia (antropogenik) yang berpotensi
menimbulkan perubahan garis pantai, yaitu:
1. Terperangkapnya
angkutan sedimen sejajar pantai akibat bangunan buatan seperti groin, jetty,
breakwater pelabuhan dan reklamasi yang sejajar garis pantai.
2. Timbulnya
perubahan arus akibat adanya bangunan di pantai.
3. Berkurangnya
suplai sedimen dari sungai akibat penambangan pasir, dibangunnya dam di sebelah
hulu sungai dan sudetan (pemindahan arus sungai)
4. Penambangan
pasir di perairan pantai, yang dapat mengakibatkan perubahan kedalam sehingga
merubah pola arus dan gelombang pecah.
5. Pengambilan
pelindung pantai alami, yaitu penebangan hutan mangrove dan pengambilan terumbu
karang.
Menurut Munandar dan Ika
(2017), abrasi atau erosi adalah kerusakan garis pantai akibat dari terlepasnya
material pantai, seperti pasir atau lempung yang terus menerus di hantam oleh
gelombang laut atau dikarenakan oleh terjadinya perubahan keseimbangan angkutan
sedimen di perairan pantai atau hilangnya daratan di wilayah pesisir, sedangkan
akresi atau sendimentasi adalah timbulnya daratan baru di wilayah pesisir.
Fenomena abrasi maupun akresi disebabkan oleh faktor alami dan manusia.
Proses-proses alami dapat berupa proses hidro-oseanoografi, dari laut misalnya
akibat hempasan gelombang, perubahan pola arus, angin dan fenomena pasang surut
yang kesemuanya dapat menyebabkan abrasi pantai. Disamping itu, kenaikan
permukaan air laut akibat pemanasan global semakin memperparah kondisi perairan
pantai. Pemanasan global merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari
tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang
disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (C02), metana
(CH4), dinitrooksida (N20) dan CFC sehingga panas dari energi matahari
terperangkap dalam atmosfer bumi.
Abrasi berdampak pada pengikisan
garis pantai atau mundurnya daratan yang disebabkan oleh air laut. Berdasarkan
gambar tersebut juga terlihat dimana garis pantai atau daratan mengalami
kemunduran hingga mengenai pemukiman penduduk. Hal ini sangat berdampak buruk
bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir dimana masyarakat harus
selalu memperbaiki atau bahkan hingga pindah rumah, serta diungsikan dari
daerah aslinya. Menurut Damaywanti (2013), dampak abrasi yang mengakibatkan
banyak permasalahan seperti hilangnya lahan pemukiman, lahan pertambakan dan
mata pencaharian yang berdampak langsung pada penurunan kualitas hidup
masyarakat. Masyarakat yang hidup di wilayah pesisir seperti nelayan, petani
dan petambak kehidupannya tergantung pada sumberdaya alam. Kondisi lingkungan
dan sumberdaya alam pesisir yang rentan tersebut berdampak pada aspek sosial
ekonomi dan sosial budaya penduduk. Dampak yang ditimbulkan dari abrasi yaitu
megikisnya bibir pantai, sehingga semakin lama air naik ke permukaan, bahkan
dapat merusak daerah disekitar pantai. · Penyusutan lebar pantai sehingga
menyempitnya lahan bagi penduduk yang tinggal di pinggir pantai. Kerusakan
hutan bakau di sepanjang pantai, karena terpaan ombak yang didorong angin
kencang begitu besar. · Kehilangan tempat berkumpulnya ikan- ikan perairan
pantai karena terkikisnya hutan bakau Menghambat pengembangan potensi kelautan
di daerah tersebut secara keseluruhan, baik pengembangan hasil produksi
perikanan maupun pemanfaatan sumber daya kelautan lainnya.
Penyelesaian dari masalah
tersebut dapat memiliki banyak jalan dan tahapan. Berdasarkan yang terlihat
masyarakat setempat telah berupaya dengan membangun penahan gelombang berupa
talut pancang bambu dan batu. Berdasarkan yang dilihat efektivitas dari
bangunan penahan sederhana tersebut jauh dari kata efektif dan layak, walaupun
sebenarnya bisa menahan tetapi hanya tidak begitu efektif dan terasa dampaknya.
Penyelesain masalah tersebut dapat dilakukan dengan banyak tahapan dan cara
yaitu:
1. Penanaman
tumbuhan pelindung pantai berupa mangrove, bakau, nipah, pohon api-api
atau mungkin tanaman lainnya yang dapat menahan gelombang laut yang dating
2. Melalukan
pengisian pasir atau pengurukan Kembali (sand nourishment). Hal ini
dilakukan dengan penambahan sedimen dengan menggunakan bahan dari laut atau
dari darat. Upaya ini diharapkan bahan urukan tersebut dapat menjadi
cadangan apabila dibawa oleh air laut
tidak langsung mengikis garis pantai
3. Pembuatan
Groin atau bangunan pelindung pantai yang biasanya dibuat tegak lurus
garis pantai dan berfungsi untuk menahan transpor sedimen sepanjang pantai,
sehingga bisa mengurangi/menghentikan erosi yang terjadi
4. Pembuatan
Seawall dan atau Breakwater. Dengan pembangunan tersebut
diharapkan gelombang atau ombak besar yang dating tidak langsung menerjang
daratan sehingga gelombang dapat pecah atau energinya berkurang dahulu sebelum
membentur daratan.
5. Pembuatan
Sea dikes pada daerah pesisir perairan tersebut yang difungsikan untuk melindungi
daerah dataran atau pesisi hantaman gelombang akibat air laut yang masuk.
Sumber Referensi:
Damaywanti, Kurnia. 2013. Dampak Abrasi Pantai
terhadap Lingkungan Sosial (Studi Kasus di Desa Bedono, Sayung Demak). Prosiding
Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 2013, 363-377
Diposaptono, Suyanto. 2011. Teknologi Mitigasi
Tsunami. Materi Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Bencana Tsunami di
Wilayah Pesisir. Jakarta: LIPI
Munandar dan Ika Kusumawati. 2017. Studi Analisis
Faktor Penyebab dan Penanganan Abrasi Pantai di Wilayah Pesisir Aceh Barat. Jurnal
Perikanan Tropis, Vol 4(1), 47-56, 2017
